sectio caesarea

5 Jun

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT I.

Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

II. Jenis – jenis operasi sectio caesarea

1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)

a. Sectio caesarea transperitonealis  SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.

Kelebihan :

 Mengeluarkan janin dengan cepat

 Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

 Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan

 Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik

 Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 

b.SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm

Kelebihan :

 Penjahitan luka lebih mudah

 Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

 Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum

 Perdarahan tidak begitu banyak

 Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil

Kekurangan :

 Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak

 Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal

2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Sayatan memanjang ( longitudinal )

2. Sayatan melintang ( Transversal )

3. Sayatan huruf T ( T insicion )

III. Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) 

-Fetal distress  His lemah / melemah 

-Janin dalam posisi sungsang atau melintang 

-Bayi besar ( BBL  4,2 kg ) 

-Plasenta previa  Kalainan letak 

-Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) 

-Rupture uteri mengancam 

-Hydrocephalus 

-Primi muda atau tua  Partus dengan komplikasi  Panggul sempit  Problema plasenta

IV. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :

1. Infeksi puerperal ( Nifas ) – Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari – Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung – Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan – Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka – Perdarahan pada plasenta bed

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi

4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

B.     Deskripsi Problematika Fisioterapi

Adapun problem yang dihadapi oleh pasien post operasi sectio caesarea adalah :

1.      Nyeri

Nyeri dirasakan sebagai akibat adanya luka incisi pada dinding perut ataupun dinding uterus.

2.      Potensial terjadinya penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul

Penurunan elastisitas otot perut dan elastisitas otot dasar panggul terjadi karena pada masa kehamilan terjadi penguluran pada otot-otot tersebut.

3.      Potensial terjadinya trombosis

Hubungan pendek (shunt) antara sirkulasi ibu dan plasenta didapat pada masa kehamilan. Shunt akan hilang dengan tiba-tiba setelah melahirkan ada kompensasi hemokonsentrasi dengan peningkatan viskositas darah sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Dengan adanya mekanisme tersebut maka potensial terjadi trombosis pada pembuluh darah venanya karena tungkai dibiarkan terlalu lama tidak bergerak.

4.      Penurunan kemampuan ADL

Karena adanya nyeri pada masa incisi menyebabkan pasien enggan untuk bergerak. Sehingga pasien mengalami gangguan dalam transfer, ambulasi ataupun ADL.

C.Teknologi Intervensi Fisioterapi

Terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi dimana dalam pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan gerak tubuh, baik secara pasif maupun aktif (Kisner, 1996).

Terapi latihan bertujuan untuk mempertahankan dan memperkuat elastisitas otot-otot dinding perut. Otot-otot dasar panggul, ligamen dan jaringan serta fasia, perawatan dan pemeliharaan keindahan tubuh (Rustam M, 1998).

Tehnik yang digunakan pada terapi latihan antara lain :

1.      Gerakan aktif (active movement)

Merupakan gerakan yang diselenggarakan dan dikontrol oleh kerja otot yang disadari, bekerja melawan tenaga dari luar.

Klasifikasinya :

a. Assisted active movement

Merupakan gerakan yang terjadi karena adanya kerja otot yang bersangkutan melawan pengaruh gravitasi. Dalam melawan gravitasi kerjanya dibantu oleh kekuatan dari luar.

b. Free active movement

Merupakan gerakan yang terjadi karena kerja otot dalam melawan pengaruh gravitasi, yang kerjanya tidak dibantu oleh kekuatan dari luar.

2. Breathing exercise

Merupakan suatu latihan pernafasan yang ditujukan untuk memelihara daya kembang thoraks. Selain itu juga membantu mengeluarkan mucus yang ada pada sistem pernafasan. Teknik yang digunakan adalah SMI (sustained maximal inspirited) yaitu inspirasi maximal yang ditahan 2-3 detik kemudian dihembuskan perlahan-lahan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya kembang thoraks sehingga volume paru meningkat.

3.      Statik kontraksi

Suatu metode terapi latihan yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot (Ebner, 1959).

4.      Latihan otot-otot perut dan otot dasar panggul

Latihan pada otot-otot perut dan otot dasar panggul bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan elastisitas otot-otot perut dan otot-otot dasar panggul.

5.      Edukasi

Menjelaskan pada Ibu tentang manfaat latihan penguatan otot perut dan aktivitas perawatan diri di rumah. Selain itu diberi petunjuk latihan di rumah cara menyusui dan perawatan payudar

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000, Sistem Kesehatan Nasional.

Dini Kasdu, 2003, Operasi Caesar Masalah dan Solusinya, Puspa Swara, Jakarta..

Ebner Maria, 1959, Second Edition, Physiotherapy in Obstetri and Gynecology,

Hasanah, P, Senam Hamil, 1991, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, .

Kisner, C, Lynn dan Allen C, 1996, Therapheutic Exercise Foundation and Technique, FA Davis, Philadelphia,

Kusnandari, 1993, Kesehatan Ibu Hamil dan Melahirkan, Unit Pelayanan Trehabilitasi Medis, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Nugroho, D.S, 2001, Neurofisiologi Nyeri dan Aspek Kedokteran, Pelatihan Penatalaksanaan FT Komprehensif pada Nyeri, Surakarta 7-8 Maret.

Prasetya, Hudoyo, 1996, Obstetri dan Ginekologi, Akademi Fisioterapi Surakarta.

Puts and Pabts, 2000, Sobatta, EGC, Edisi 21, Jakarta,.

Rosemary, M, Schlly, 1989, Physical Therap, J.B Lippincott Company Philadelphia.

Rustam, Mochtar, 1998, Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif, Obestetri Sosial, Jilid ke 2, Edisi ke 2, EGC, Jakarta.

Sarwono, Prawirohardjo, 1981, Ilmu Kebidanan, Edisi ke 2, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

Sri Mardiman, dkk, DP3Ft II, Akademik Fisioterapi Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: